Thursday, October 4, 2007

Comment atas Post # 7 Keutamaan

Post # 7 Keutamaan

Oktober 4, 2007 |

Jadikanlah Penemuan Kunci Kejayaan Total

Diri Anda Satu Keutamaan Mulai Sekarang

Begitulah, dengan penemuan kunci kejayaan total, anda bukan sahaja kembali kepada fitrah diri anda sendiri, anda juga boleh membuka pintu langit untuk mendapatkan khazanah ilmu, mengalami magik sungguh, memiliki kekayaan, mengumpul harta benda, kecapi nikmat hidup mewah, beramal, menjadi abid yakni hamba Allah yang diredhai-Nya, mengembara ke serata dunia, memiliki hajat, bahkan menemui jodoh.


(Gambar Hiasan Siti Nurhaliza dipetik dari http://www.irwan.biz/siti-nurhaliza-wedding-pictures/)

Saya kata *Kahwinilah insan yang anda kasihi dan kasihilah insan yang anda kahwini*

Setelah menemui kunci kejayaan total diri anda kelak, anda hidup di Jannah, Taman, (atau juga disebut orang, Syurga), di akhirat bermula di sini, dunia yang sementara ini.

Teringat lagu dendangan sahabat sekuliah saya, Bee dan Jee, johan pertandingan Bakat TV RTM, yang mendendangkan lagu karya insan Indonesia,

Beribu jabal ku daki, empat khutub aku susuli, delapan penjuru angin ku jelajahi. Adakah ini rindu atau sedang keasmaraan. Aku inginkan air penyejuk jiwa. Bergenang air mata, menitis rumput hijau, hatiku telah terjerih. Duhai arjunaku!


(Gambar Hiasan Siti Nurhaliza dipetik dari http://www.irwan.biz/siti-nurhaliza-wedding-pictures/)

Kalau jodoh tak ke mana.

Begitulah asyiknya setelah anda menemui kunci kejayaan total diri anda tidak lama lagi ya.

Apamacam? …Bagaimana aa-eman dan rakan pembaca majalah dompas?

Untuk itu, jadikanlah ini keutamaan dalam hidup anda mulai sekarang.
Perihal Penulis:

Zubli Zainordin pengasas Sains dan Seni Jaya Diri, pengarang blog Total Happiness dan pengelola Book Project blog. Kini penulis jemputan di Majalah.Dompas.net

Comments

1 Comment so far
aa-eman on 2007-10-04 8.01 pm

Aduhai aa Zubli, maafkan aa eman yang belum bisa menemukan kunci itu. Mana pikiran lagi kalut. Meskipun berkerejap, dalam sedikit sinar harapan. Aa-eman ada melihat, adakah Rasa entah Concious yang aa-Zubli maksud?

 Zubli Zainordin on 2007-10-05 9.28 am
Bukan, sila teruskan pencarian. Kunci Kejayaan Total aa eman itu dekat pada diri anda sebenarnya. Menyentuh Conscious, perhatikan nanti, InsyaAllah, saya tulis topik ini untuk membetulkan pemikiran seluruh dunia. Sarjana mengaitkan Conscious atau Consciousness sebagai kesedaran, tidak gitu? Contohnya dia masih konsius, atau dia masih sedar. Sedar ialah realize, dan bukan conscious atau consciousness. Sebenarnya, Conscious atau Conscious sebenarnya ialah remembrance, atau ingatan. Nanti saya kupas bezanya dengan memory. InsyaAllah. Teruskan aa eman ya…

aa-eman on 2007-10-05 1.53 pm
Aa zubli…Apa beza orang kaya dan orang miskin? Apa beza orang cinta damai atau syok berperang? Kata kuncinya adalah Ridha. Kalau ridha orang akan merasa kaya, kalau ridha orang cinta damai. Kemarin kami bertengkar karena tak ridha, tadi menjelang shalat Jumat kami bermesraan kembali, Insyallah hati kami saling bertaut kembali, karena sama2 ridha. Iya kah aa? Kunci keutamaan yang lagi aa eman coba temukan iaitu Ridha.

 

Posted by aa.eman in 12:58:08 | Permalink | No Comments »

Kesimpulan & Comment atas Matematika Gaji dan Logika Sedekah

Matematika Gaji dan Logika Sedekah

Oktober 4, 2007 |

Klik logo id untuk Bahasa Indonesia dan ms untuk kesimpulan dalam Bahasa Melayu.

Pengajaran yang dapat kita perolehi dari rencana ini bahawa (1) sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tetapi sebaliknya menjadikan orang yang bersedekah itu kaya. (2) Jangan takut bersedekah kerana gaji kecil, tetapi yakinlah pada keluasan rezki Allah. (3) Pandanglah ke bawah, jangan pandang ke atas. Terapkan sifat qana’ah (sentiasa berasa cukup), redha dan syukur

 

Comments

1 Comment so far
aa-eman on 2007-10-04 7.23 pm

Subhanallah. Selamat berbuka puasa. Bagus sekali Editor buat kesimpulan, dengan alih bahasa bagi kemashlahatan ummat.

Posted by aa.eman in 12:14:11 | Permalink | No Comments »

Matematika Gaji dan Logika Sedekah

Matematika Gaji dan Logika Sedekah

Oktober 4, 2007 |

Klik logo id untuk Bahassa Indonesia dan ms untuk kesimpulan dalam Bahasa Melayu.

Oleh A. Muttaqin

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang pada zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.

Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu, melainkan dari pria ini.

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib “guru” yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa.

Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

“Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis.”

“Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?”

“Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang.”

“Kenyataannya memang begitu kan Mas?”, kata saya mengiayakan. “Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi.” Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

“Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?”

“Tidak ada. Habis.” jawab saya spontan.

“Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga.”

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

“Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis “, saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

“Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC.”

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan.

Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

“Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai matematis dengan dimensi sedekah itu?”.

“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan syukur”. Saya semakin tertegun

Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur’an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)

Sumber: “Donna Savitri” [Kiriman Aa-eman]

Posted by aa.eman in 11:59:24 | Permalink | No Comments »